Tahu…, Mau…., Mampu…..,
Agaknya para kontestan yang bakal maju dalam pilkada tahu apa itu psikoanalisa: “Kalau bisa menghadirkan sesuatu yang disenangi pemilih Anda mempunyai modal besar untuk bakal dipilih”. Sebagai langkah awal sekali pada masa kampanye para kontestan menciptakan situasi, suasana yang disenangi oleh para pemilih. Maka dihadirkanlah artis-artis guna memperdengarkan tembang-tembang yang dipandang sebagai favorit massa, entah itu lagu tempo dulu atau yang sedang hits. Kalau bisa menghadirkan penembang asli, massa lebih senang. Tetapi seandainyapun tidak bisa hadir, minimal tembang itu diperdengarkan. Atau kemungkinan lebih jauh lirik-syair bisa juga diplesetkan dengan kalimat-kalimat manis versi kontestan.
Begitulah dalam satu sesi, salah seorang jurkam kontestan mendedangkan plesetan lagu yang sedang hits saat ini di kalangan kaum muda: “Tuhan kirimkanlah aku, gubernur yang baik hati, yang mencintai rakyat Sumut, …”. Wah……seandainya Sumut dapat pemimpin yang seperti itu, baik hati dan mau mencintai. Siapakah calon pemimpin itu?????
Menurut aku sih itu pemimpin yang sangat ideal yang serentak sangat kabur, terlalu luas cakupan jabarannya, entah apalah. Bagiku secara pribadi seorang pemimpin yang baik hati dan mau mencintai harus mempunyai tiga syarat: tahu, mau dan mampu. Rasanya agak lebih konkrit.
Pertama, aneh juga rasanya bila seorang pemimpin tidak tahu (red: bisa juga disebut kenal) “wilayah” kepemimpinannya. Tahu situasi SDM (Sumber Daya Manusia) dan SDA (Sumber Daya Alam) dengan sisi plus-minusnya. Tentu, tahu bukanlah barang jadi tapi lebih merupakan hasil dari pengalaman pernah tinggal, hidup bersama. Maka arifkah memilih pemimpin yang boleh jadi sangat minim tahunya (kenalnya)? Cukup tepatkah memilih pemimpin yang jam terbangnya begitu tinggi di daerah lain?
Kedua, setelah tahu (kenal) langkah berikutnya adalah “mau”. Maukah berbuat sesuatu demi memaksimalkan segala potensi SDM dan SDA secara maksimal tanpa terlebih dahulu datang dengan aneka kepentingan pribadi atau kelompok-golongan. Maukah merangkul dan berbuat demi semua. Maukah mereparasi hal-hal yang tidak patut (segala kekurangan, segala situasi “minus”) tanpa dibelenggu prinsip apa untungnya buatku?
Sebab kalau sudah dibelenggu oleh apa untungnya buatku, maka untuk memaksimalkan potensi tersebut diatas tidak akan tercapai atau terjadi karena status “aku” sudah mendominasi.
Mantan presiden AS yang sangat kesohor (Abraham Lincoln: 1860) pernah mengatakan bahwa dalam kepemimpinan itu mesti ada sentakan. Harus ada terjadi ledakan. Segala-galanya seakan-akan berada dalam posisi “harus diputuskan dengan segera”. Dalam hal ini mau-nya seorang pemimpin harus segera direalisasikan. Masa kepemimpinan sifatnya periodik, dan mau apa jika dalam periode yang rasanya sangat singkat pemimpin sering bertahan dalam prinsip wait and see? Hanya dengan sentakan ada perubahan berarti dan masa kepemimpinan jadi berwarna.
Ketiga, penge-tahu-an dan ke-mau-an tanpa dibarengi kemampuan tidak berarti. Bahasa yang lebih tegas, “kekuasaan tanpa alat pemaksa bagaikan macan tanpa gigi”. Kemampuan memang mengandaikan daya nalar tapi mungkin dalam konteks saat ini, kemampuan boleh diartikan dengan “bersih”. Soal pertimbangan-pertimbangan, rancangan-rancangan, pemimpin toh mempunyai staff ahli. Justru sering pengetahuan dan kemauan seorang pemimpin terhalang dengan status “tidak bersih”. Perlu dicermati track record sebelumnya. Hanya orang yang relatif bersih bisa plong berbuat sesuatu. Memang tidak dipungkiri bahwa saat ini ada lingkaran setan (circulus vitiosus) yang begitu sulit diputus, tetapi minimal kalau tidak terlalu bermasalah, ada kemungkinan berbuat.
Tulisan ini murni refleksi pribadi tanpa pretensi apapun. Selamat menggunakan hak pilih Anda…segalanya berpulang pada Anda.
DIarsipkan di bawah: Beranda | 1 Komentar »
